Tepatnya pada medio tahun 2020 melalui keputusan Pengurus Wilayah LP Maarif NU Jawa Tengah Nomor 014/PW.11/LPMNU/SK/I/2020 tentang Kurikulum Mata Pelajaran ke-NU-an, pengetahuan tentang Nahdlatul Ulama mulai diajarkan di bangku pendidikan utamanya madrasah. Banyak ulama dan pengamat menyatakan pelajaran ke-NU-an merupakan ruh dari identitas madrasah itu sendiri. Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan pengetahuan keislaman menjadi ruang yang ideal untuk belajar banyak tentang Nahdlatul Ulama.
Pengetahuan keislaman menganjurkan adanya ma’rifatunnas (mengenali diri sendiri) yang artinya tentu saja, penting bagi para pelajar di madrasah atau lembaga yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama untuk dikenalkan nilai-nilai ke-NU-an. Baru-baru ini, Ketua Lembaga Pendidikan Ma`arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani menyampaikan pesan khusus kepada seluruh Kepala satuan pendidikan Ma`arif PWNU Jawa Tengah agar mengajarkan kurikulum ke-NU-an (sekarang kurikulum ASWAJA NU). Hal ini dirasa penting sehingga ke-NU-an tidak lagi dalam konteks Mata Pelajaran (Mapel) pada Kurikulum Mulok namun kalau bisa menjadi Mapel yang masuk dalam Kurikulum Wajib.
Lebih lanjut, pihak Lembaga Pendidikan Ma`arif NU Jawa Tengah telah menyusun dan mencetak buku ke-NU-an dan siap diedarkan sehingga madrasah terkait tidak perlu mencari referensi lain selain dari buku yang telah dicetak Ma`arif Jateng. Anjuran tersebut tentu saja dapat menjadi sinergi yang memudahkan sistem pembelajaran di kelas karena guru pengampu mendapat bahan pegangan pengajaran. Selain itu juga dapat membuat Mapel ke-NU-an akan lebih mudah diakses para pelajar ketika mereka ingin melanjutkan pembelajaran di luar ruang kelas.
Ke-NU-an pada dasarnya menyajikan pengetahuan primer yang menekankan pada pembentukan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah S.W.T. serta berakhlakul karimah sesuai dengan prinsip dasar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Aswaja sendiri maksudnya adalah pengetahuan yang berakar dari pemikiran dan ajaran Nabi Muhammad S.A.W. serta para sahabatnya yang dalam konteks ini berisi tiga macam sunnah Nabi Muhammad S.A.W. yaitu sunnah qawliyah yang berdasarkan perkataan Nabi, sunnah fi’liyah berdasar perbuatan Nabi, dan sunnah taqririyah berdasarkan persetujuan Nabi terhadap tindakan-tindakan (amalan) dari para sahabatnya. Wallahu-a’lam.
.png)
0 Komentar