Headliine

Takbir Keliling dan Sound Horeg: Menjaga Syiar atau Sekadar Hiburan?


LTN MWC NU Margoyoso
Opini - Malam takbiran selalu identik dengan gema takbir yang menggetarkan hati. Lantunan “Allahu akbar” menggema dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung, menjadi penanda datangnya hari kemenangan, Idul Fitri.

Namun belakangan, dentuman “sound horeg” turut mewarnai tradisi takbir keliling di berbagai daerah. Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan: masihkah takbir menjadi inti, atau justru tergeser oleh hiburan?

Takbir keliling sejatinya merupakan bagian dari syiar Islam. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan ekspresi kebahagiaan umat dalam mengagungkan kebesaran Allah setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan. Kebersamaan, kekhidmatan, dan semangat religius menjadi ruh utama dalam kegiatan ini.

Di sisi lain, perkembangan zaman membawa perubahan dalam cara masyarakat merayakannya. Penggunaan sound system berdaya besar—yang dikenal dengan istilah “sound horeg”—menjadi tren baru, khususnya di kalangan generasi muda. Iring-iringan kendaraan dengan lampu hias, pengeras suara besar, dan dentuman bass yang kuat menciptakan suasana meriah yang tidak bisa dipungkiri menarik perhatian.

Bagi sebagian kalangan, fenomena ini dianggap sebagai bentuk kreativitas dan inovasi dalam merayakan malam takbiran. Sound horeg dinilai mampu menghidupkan suasana, meningkatkan partisipasi pemuda, serta menjadikan takbir keliling lebih semarak dan dinamis.

Namun demikian, tidak sedikit pula yang mengkritisi keberadaan sound horeg. Volume suara yang berlebihan kerap kali mengganggu ketenangan warga, terutama lansia, anak-anak, dan orang yang sedang sakit. Lebih dari itu, dominasi musik atau efek suara tertentu dikhawatirkan menggeser esensi utama takbir itu sendiri. Takbir yang seharusnya menjadi pusat kegiatan justru berpotensi menjadi sekadar pelengkap di tengah hiruk-pikuk hiburan.

Dalam perspektif ajaran Islam, mengagungkan nama Allah merupakan amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada malam hari raya. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak takbir sebagai bentuk rasa syukur dan pengagungan. Oleh karena itu, menjaga kekhusyukan dan makna dalam pelaksanaan takbir menjadi hal yang sangat penting.

Menyikapi fenomena ini, diperlukan kebijaksanaan dari semua pihak. Kemeriahan dalam merayakan malam takbiran bukanlah sesuatu yang dilarang, selama tidak melampaui batas dan tetap menjaga nilai-nilai utama. Penggunaan sound system dapat diterima selama proporsional, tidak berlebihan, dan tidak mengganggu ketertiban umum.

Selain itu, penting untuk menanamkan kesadaran bahwa takbir keliling bukanlah ajang kompetisi kemeriahan, melainkan sarana ibadah dan syiar. Generasi muda sebagai pelaku utama dalam kegiatan ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara semangat kebersamaan dan nilai spiritual.

Pada akhirnya, takbir keliling adalah cerminan wajah masyarakat itu sendiri. Ia bisa menjadi indah dan penuh makna ketika dijalankan dengan kesadaran dan adab, namun bisa pula kehilangan ruhnya ketika lebih menonjolkan aspek hiburan semata.

Keseimbangan antara semarak dan kekhusyukan menjadi kunci. Sound horeg boleh hadir sebagai pelengkap zaman, tetapi takbir harus tetap menjadi jiwa utama. Di situlah letak kearifan: merayakan kemenangan tanpa kehilangan makna pengagungan kepada Sang Pencipta.

Penulis: Masudi, S.Hum. - Anggota LTN MWC NU Margoyoso

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close