Keislaman, LTN MWC NU Margoyoso
Hikmah - Ramadan adalah bulan latihan. Kita dilatih menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun ujian sesungguhnya sering datang saat waktu berbuka tiba. Meja dipenuhi hidangan, aneka takjil tersaji, dan tanpa sadar kita makan berlebihan.
Akibatnya, ketika waktu salat Tarawih datang, tubuh terasa berat, mengantuk, bahkan malas melangkah ke masjid.
Di sinilah Ramadan mengajarkan satu hikmah penting: pengendalian diri tidak berhenti saat adzan Maghrib berkumandang.
Ramadan Bukan Bulan “Balas Dendam” Makan
Sepanjang hari kita menahan lapar. Secara manusiawi, muncul keinginan untuk menggantinya dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka. Namun jika tidak dikendalikan, berbuka justru menjadi ajang pelampiasan.
Padahal, hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih jiwa agar tidak diperbudak oleh keinginan. Ketika perut terlalu kenyang, hati menjadi berat. Tubuh terasa malas berdiri lama. Tarawih yang seharusnya menjadi puncak kenikmatan malam Ramadan berubah menjadi beban.
Ajaran Nabi tentang Menjaga Porsi Makan
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa **Islam mengajarkan keseimbangan**, bahkan dalam urusan makan. Berbuka secukupnya bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian dari sunnah dan bentuk ketaatan.
Perut yang tidak berlebihan akan membantu tubuh ringan dalam ibadah dan hati lebih mudah khusyuk.
Kenyang dan Pengaruhnya terhadap Kekhusyukan
Kenyang berlebihan membuat tubuh fokus pada proses pencernaan. Rasa kantuk muncul, gerakan terasa berat, dan konsentrasi berkurang. Dalam kondisi demikian, sulit menghadirkan kekhusyukan.
Para ulama mengingatkan bahwa terlalu banyak makan dapat mengeraskan hati dan mengurangi semangat ibadah. Sebaliknya, makan secukupnya membantu menjaga kejernihan pikiran dan kelembutan hati. Ramadan mendidik kita untuk merasakan cukup, bukan berlebihan.
Berbuka Secukupnya, Bukan Sepenuhnya
Cara sederhana yang bisa dilakukan:
1. Berbuka dengan air dan 1–3 butir kurma.
2. Salat Maghrib terlebih dahulu.
3. Makan utama dengan porsi wajar, tidak berlebihan.
4. Hindari langsung rebahan setelah makan.
Dengan pola ini, tubuh tetap bertenaga tanpa merasa terlalu penuh. Tarawih pun terasa lebih ringan dan khusyuk.
Mengendalikan Diri Setelah Seharian Menahan Diri
Menahan lapar sejak pagi adalah bentuk pengendalian diri. Namun kemampuan itu akan sempurna jika berlanjut hingga malam hari.
Jangan sampai sepanjang hari kita menahan lapar, tetapi ketika berbuka justru kalah oleh nafsu makan. Jika siang kita mampu berkata “tidak” pada lapar dan haus, maka malam pun kita mampu berkata “cukup” pada keinginan berlebihan.
Ramadan mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan pada seberapa banyak ia makan, tetapi pada seberapa mampu ia mengendalikan diri.
Tarawih sebagai Buah dari Pengendalian
Perut yang ringan membantu kaki melangkah ke masjid. Tubuh yang tidak berlebihan memudahkan berdiri lebih lama. Hati yang tidak dikuasai nafsu lebih mudah merasakan kehadiran Ilahi. Berbuka secukupnya bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi menjaga kualitas ibadah.
Ramadan Mengajarkan Cukup
Ramadan datang setiap tahun untuk mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita konsumsi, tetapi dari seberapa baik kita mengendalikan diri.
Berbuka secukupnya menjadikan Tarawih lebih khusyuk. Tarawih yang khusyuk menghadirkan ketenangan. Dan ketenangan itulah **buah sejati dari puasa**.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya menahan lapar di siang hari, tetapi juga mampu menahan diri dari berlebihan di malam hari. Karena di situlah letak hikmah Ramadan yang sesungguhnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis:
Masudi, S.Hum.
(Anggota LTN MWC NU Margoyoso, Pati, Jawa Tengah)

0 Komentar